Dusta yang Diperbolehkan

dustaKita tentu sudah tahu bahwa kejujuran adalah salah satu akhlak yang baik. Akhlak adalah penghias kepribadian muslim, sehingga tanpa akhlak maka hilanglah keindahan muslim tersebut.

Kita mengetahui jujur itu baik karena Allah memerintahkan kita untuk berlaku jujur. Dari Hasan ra, ia berkata, aku telah menghafal hadits dari Rasulullah saw, yaitu:

“Tinggalkanlah perkara yang meragukanmu menuju perkara yang tidak meragukanmu. Sesungguhnya kejujuran adalah ketentraman, dan dusta adalah keraguan. (HR. At-Tirmidzi. Ia berkata, “Hadits ini hasan shahih)”

Banyak hadits lain yang menyatakan bahwa jujur itu adalah akhlak yang baik, diperintahkan Allah dan Rasul-Nya. Namun, ada saatnya ketika dusta itu justru diperbolehkan dan jujur itu tidak dianjurkan. Saat-saat itu adalah:

1)      Dusta pada suami/istri demi menyenangkannya supaya hubungan tetap harmonis. Ukhty muslimah, dalam hubungan rumah tangga adakalanya terjadi hal-hal yang tidak berkenan di hati. Entah karena sikap pasangan yang tidak menyenangkan, masakan istri yang keasinan, yang bila dikatakan jujur apa adanya dalam segala hal maka itu akan merusak keharmonisan rumah tangga itu.

Misalnya, istri atau suami yang berwajah biasa saja. Tidak cantik, tidak tampan. Maka apa jadinya ketika kenyataan itu diungkapkan apa adanya tanpa adanya “kebohongan”? Saat istri masak keasinan, manakah kalimat yang terdengar manis berikut ini:

“Asin banget sayurnya nih.” Dengan kalimat, “Wah enak sekali, ini sayur dengan rasa istimewa.”. Namun bohong pada suami/istri tidak dibolehkan dalam hal keuangan dan hal-hal penting lainnya. Ketika ditanya apakah uang belanja masih ada, lalu dijawab dengan bohong bahwa sudah habis. Ini namanya tidak amanah.

2)      Dusta untuk mendamaikan dua orang yang bermusuhan. Dalam hal ini, rasanya tidak mungkin kita bisa mendamaikan orang yang bermusuhan kalau kita mengatakan secara jujur mengenai apa yang dikatakan oleh kedua belah pihak untuk disampaikan pada mereka. Yang terjadi justru jadinya adu domba karena dua pihak saling menjelekkan. Maka dusta dalam hal ini juga diperbolehkan. Asal jangan berlebihan dan sekadar untuk mendamaikan mereka. Misalnya, kita sampaikan kepada si A bahwa si B titip salam untuk A,begitu pula sebaliknya kita sampaikan hal yang sama kepada B. Siapa tahu hati keduanya terbuka untuk kembali menerima perdamaian.

Rasulullah saw bersabda: “Tidaklah dikatakan pendusta orang yang mendamaikan manusia (yang berseteru), melainkan apa yang dikatakan adalah kebaikan.” (Muttafaq alaihi)

3)      Dalam kondisi peperangan, kita dibolehkan berdusta kepada musuh. Ini adalah strategi perang agar bisa mengalahkan musuh Islam.

Imam Muslim menambahkan dalam suatu riwayat, berkata Ummu Kultsum ra, “Aku tidak pernah mendengar Rasulullah  saw memberikan keringanan (berdusta) kecuali dalam tiga perkara, yakni:perang, mendamaikan perselisihan di antara manusia, dan ucapan suami kepada istrinya, atau sebaliknya.”

 

Oleh karena itu, yang menjadi patokan dalam segala perbuatan kita adalah bahwa ini diajarkan dalam Islam. Ketika Allah menghalalkan maka kita kerjakan, ketika dilarang maka kita tinggalkan. Bukan semata jujur atau dusta itu berdiri sendiri, melainkan ada perintah atau larangannya terkait tentang hal itu. Semoga bermanfaat.[yA]

Related posts:

Keluarga Sakinah Dambaan Umat Islam
Hati-hati Bahaya Ghibah
Mengenal Bahan Kerudung

Tags : , , , 0 Comments