Bila Hidup Telah Berakhir

Bila hidup telah berakhirSering kita mendengar kabar kematian kerabat, teman, saudara, bahkan keluarga sendiri. Ketika mendengar pengumuman atas kematian mereka, sejenak hati ini terhenyak. Bersedih, gundah, dan berbagai perasaan tidak enak melebur jadi satu. Betapa bayangan orang yang kita kenali dan sayangi ternyata kini hanya bisa diam di dalam kuburna, seakan dunia ini runtuh.

Itulah kematian, datangnya tak pernah memberikan aba-aba dan peringatan. Ia selalu datang tepat waktu, tak pernah mundur atau maju karena memang sudah ditetapkan garis finishnya. Bagi yang tidak mempersiapkan segala bekal untuk menghadapi kematian, hanya ada rasa takut dalam dirinya. Belum siap dengan bekal seadanya, karena itulah banyak yang takut akan kematian.

Orang yang pagi hari masih berbicara dengan kita, mendadak siang harinya telah tiada. Ini menimbulkan perasaan tidak percaya, kaget dan sedih. Ya, harus diakui bahwa siapa saja bisa menemui kematian kapan saja.

Sebenarnya, bukan kematiannya yang harus kita takuti. Melainkan bagaimana kejadian sesudahnya yang harus kita waspadai. Apa yang sudah kita perbuat untuk bekal kita di alam sana, sebagai pertanggungjawaban kepada Sang Pencipta? Memang kematian itu sakit, tetapi lebih sakit lagi bila kita tak membawa bekal yang cukup kemudian kita disiksa atas perbuatan buruk kita.

Kematian bagaikan sahabat dekat kita, lebih dekat dari urat nadi. Setiap saat selalu mengintai, semakin mendekatkan kita pada garis finish. Setiap detik yang terlewat, semakin mendekatkan kita pada kematian. Namun begitu dekatnya ia, rasanya bagaikan sesuatu yang jauh dan tak mungkin menghampiri kita. Padahal kematian itu bisa menyerang siapa saja, baik itu pejabat maupun rakyat. Tak pandang bulu, tak pilih kasih.

Itulah cara Allah mengambil kita untuk kembali kepada-Nya. Allah berfirman: “Bagaimana kamu mengingkari (Allah) sedang kamu tadinya mati, kemudian  dihidupkan (oleh-Nya), kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kamu dikembalikan kepada-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 28)

Kematian bukanlah akhir kehidupan secara mutlak. Kematian hanyalah berpindahnya kehidupan yang satu kepada kehidupan yang lain. Orang yang meninggal dunia pada hakikatnya ia tetap hidup, akan tetapi kita tidak menyadarinya.

“Janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang meninggal di jalan Allah bahwa mereka itu telah mati, sebenarnya mereka hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.” (QS Al-Baqarah: 154)

Imam Ahmad meriwayatkan bahwa, “Seorang mukmin, saat menjelang kematiannya, akan didatangi oleh malaikat sambil menyampaikan dan memperlihatkan kepadanya apa yang bakal dialaminya setelah kematian. Ketika itu tidak ada yang lebih disenanginya kecuali bertemu dengan Tuhan (mati). Berbeda halnya dengan orang kafir yang juga diperlihatkannya kepadanya yang apa yang bakal dihadapinya, dan ketika itu tidak ada sesuatu yang lebih dibencinya daripada bertemu dengan Tuhan.”

Oleh karena itu, persiapkanlah segala bekal untuk menghadapi kematian, bertemu dengan Allah swt dalam keabadian…. wallahu a’lam. [yA]

Related posts:

Beli Kerudung: Murah atau Bagus?
Hati-hati Bahaya Ghibah
Mengenal Bahan Kerudung

Tags : , , 0 Comments